Sejarah & Spiritualitas

Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) berawal dari kemurahan hati seorang warga negara Belanda yang bekerja sebagai pengelola perkebunan di sekitar Ambarawa. Ia menyerahkan tanah dan rumah miliknya kepada Gereja yang kemudian diserahkan kepada Kongregasi Bruder Para Rasul, atau yang dikenal dengan Bruder Apostolik.

Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) berawal dari kemurahan hati seorang warga negara Belanda yang bekerja sebagai pengelola perkebunan di sekitar Ambarawa. Ia menyerahkan tanah dan rumah miliknya kepada Gereja yang kemudian diserahkan kepada Kongregasi Bruder Para Rasul, atau yang dikenal dengan Bruder Apostolik.

Pada tahun 1954, Sri Paus menerbitkan Surat Gembala dalam rangka memperingati 100 tahun dogma “Maria Terkandung Tanpa Noda” tahun tersebut ditetapkan sebagai Tahun Maria. Sri Paus mengajak semua paroki untuk mengadakan perayaan sebagai bentuk penghormatan kepada Bunda Maria. Seruan ini disambut hangat oleh umat Katolik khususnya di Ambarawa.

Pada suatu kesempatan, Romo Bernardinus Soemarno SJ datang berkunjung ke pasturan dan berdiskusi dengan Romo Reijnders. Dalam percakapan hangat itu, Romo Reijnders menceritakan rencana kegiatan untuk merayakan Tahun Maria. Dari situlah muncul gagasan dari Romo Bernardinus: bagaimana jika dibuat sebuah gua sebagai tempat devosi khusus bagi Bunda Maria?

Gagasan ini segera disambut dengan semangat. Di tahun itu juga, Bruder FX Woerjoatmodjo SJ, yang saat itu memimpin asrama, mengajak para siswa-siswi sekolah dan guru yang tinggal di Asrama Bruder dan Suster di Ambarawa untuk ikut serta membangun gua. Mereka berbondong-bondong mengumpulkan batu dari Sungai Panjang, dan membawanya ke kebun milik Bruder Apostolik di Kerep. Suasana penuh gotong royong dan semangat kebersamaan terasa sangat kuat.

Menurut Romo Reijnders, Bruder FX Woerjoatmodjo SJ dikenal sangat aktif dan dicintai oleh anak-anak. Ia bukan hanya memberi perintah, tetapi turut bekerja bersama mereka, menciptakan suasana kerja yang hangat dan penuh semangat.

Dari niat baik, semangat iman, dan kerja bersama itulah GMKA mulai dibangun—sebagai tempat doa dan devosi kepada Bunda Maria yang hingga kini terus hidup dan berkembang.